Cerpen
Tapi Dia Tampan Bu
Karya: Brown Eyes
Berlarian
kesana-kemari. Canda, tawa, bahagia. Tak letih asalkan dengan teman sebaya.
Bermain peran figur idolanya, yakni Cinderella. Dengan luwes gadis 10 tahun itu
memainkan peran sebagai puteri. “Elsa,
sudah sore sayang. Mandi dulu, mainnya dilanjutkan besok lagi ya !” perintah
keras dari wanita dewasa cantik yang tak lain adalah ibu gadis tersebut pun
ditujukan untuk para gadis kecil yang sedang berada di halaman. Sontak
permainan imajinasi Elsa dan teman-teman buyar begitu saja. “Iya Bu !!!” jawab
Elsa dengan rasa kecewanya karena terhentinya ia bermain dengan teman-temannya.
“Yaudah Sa, besok lagi ya kita mainnya. Besok aku mau jadi puterinya, gantian
pokoknya” saut Intan teman Elsa. “ Yaudah besok aku tidak ikut main” balas Elsa
dengan menjulurkan lidah. “Jangan gitu dong, jangan semaunya sendiri kamu”
balas Intan dengan marah. “Iiih apa sih, aku maunya jadi puterinya.
Titik.”dengan angkuh Elsa pun tetap ingin menjadi seorang puteri. “Eh eh eh,
ada apa ini kok berantem” tanya Ibu Elsa. “Ini Elsa mainnya curang tidak mau
gantian jadi puterinya” Intan pun mengadu. “Begini saja, bagaimana kalau besok
mainnya sambil belajar saja ya. Ibu nya Elsa besok jadi gurunya kalian jadi
muridnya ya?” ucap Ibu Katrine sebagai penengah diantara mereka. Dan mereka pun
menyetujuinya. Karena waktu sudah menunjukkan hari semakin sore, maka Intan pun
pulang kerumahnya yang jarak tidak jauh
dari rumah Elsa.
Keesokkan
harinya, pagi-pagi sekali Elsa terbangun dari tidurnya dan bergegas untuk
berangkat sekolah. Setelah aktifitas paginya yakni mandi, merapihkan kamar, dan
sarapan, Elsa segera meminta ayahnya untuk mengantarkannya yang juga sekaligus
mengantarkan Ibu Elsa bekerja. Ayah Elsa bekerja sebagai dokter dan Ibu Elsa
sebagai pembimbing anak-anak yakni guru Sekolah Dasar. Berbeda letak sekolah
Elsa dengan ibunya, Elsa pun samapai lebih dulu di SD Bahagia 1, kemudia ayah
melanjutkan untuk mengantar Ibu Elsa ke sekolah dasar yang berbeda yang
jaraknya 1 km dari sekolah Elsa.
Sesampainya
Elsa di mana ia tempat menimba ilmu, ia pun berlarian berebut tempat duduk
setelah menemui teman yang lainnya. Dan didapati Elsa duduk di deretan paling
depan. Proses belajar mengajarpun berlangsung sedemian hikmat nya. Antusias
terlihat dari anak-anak kelas 4 sekolah dasar itu dengan kekatifannya di kelas
dengan gurunya. Waktu berlangsung begitu cepat, dentuman bel menunjukkan tanda
pembelajaran hari ini berakhir. Sembari ia menunggu jemputan becak langganannya
datang, di bawah pohon yang rindang yang ada di Sekolah Dasar tersebut ia
berteduh dari teriknya matahari. Seseorang menghampiri Elsa dari arah belakang.
“Elsa, Ibu mau bicara sama kamu” ucap guru kelas yang tak lain wali kelas Elsa
sendiri. “Aduh Ibu Tina mengagetkan saja, iya bu bagaimana?” jawab Elsa.
Perbincangan itu pun berlangsung hingga beberapa menit, yang inti dari
pembicaraan tersebut adalah Bu Tina mengajak Elsa untuk mewakili sekolahnya di
perlombaan menyanyi. Kesepakatan menjadi berakhirnya pembicaraan tersebut, dan
Elsa pun telah mendapat lambaian dari tukang becak langganannya.
Detik
berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari pun berganti
minggu. Latihan untuk perlombaan menyanyi telah 3 minggu berjalan. Hari ini
adalah dimana hari yang menegangkan bagi Elsa, tepatnya hari ini adalah hari
dimana ia akan berkompetisi. Suasana ramai tak dapat mengobati kepanikan gadis
jelita tersebut. Aliran darah tak terkendali, hingga membuat tangan Elsa dingin
bak di kutub. Ia pun harus bolak-balik ke kamar kecil untuk meredakan suasana
panik yang terkira. Tiba saatnya Elsa untuk tampil, Elsa pun melangkah dengan
pasti dan penuh semangat bahwa ia harus tampil maksimal. Benar saja, Elsa
tampil dengan suara yang mengalihkan keramaian orang. Nada yang melengking
serta vibrato yang memperindah suaranya, pendengar pun dibuat merinding
olehnya. Di ujung penampilannya, tak sadar Elsa membuat kesalahan yang sontak
membuat pendengar tertawa yakni Elsa menghirup ingus dengan posisi microphone
masih dekat dengan wajahnya. Elsa pun tak kuat menahan malu akibat
kelalaiannya. Setelah turun panggung Elsa pun lari memeluk ibunya dan Bu Tina
karena malu yang harus ditanggungnya. “Tidak apa-apa sayang” ujar Ibu Katrine.
“Haha Elsa demam panggung ya. Tidak apa-apa buat pengalaman. Sudah bagus banget
tadi” jawab Bu Tina untuk menenangkan Elsa.
Perasaan
lega bercampur senang setelah Elsa menunjukkan bakatnya yang menuai banyak
pujian. Elsa pun duduk tenang sembari melihat peserta lainnya. Tiba-tiba hal
lucu kembali mewarnai keadaan. Salah seorang anak lelaki membenarkan celananya
di atas panggung karena celana yang dipakainya kebesaran. Jelas hal aneh itu
membuat penonton tertawa terbahak. Dan terlihat beberapa kali anak laki-laki
itu dalam bernyanyi menghembus dan
menghela nafas dengan kencang hingga saat ia memegang microphone pun terlihat
bergetar. Begitu anak laki-laki tersebut selesai, kejadian lucu terulang
kembali ketika ia tersandung karpet yang ada di panggung. Usai turun panggung
terlihat bahwa anak laki-laki itu menghampiri Ibu Katrine. Ternyata anak
laki-laki tersebut yang bernama Alif adalah murid Ibu Elsa yang menjadi
perwakilan lomba dari sekolahnya SD N 2 Alian.
Saat
yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pengumuman kejuaranan adalah momentum yang
ditunggu semua peserta lomba. Pusat kebahagiaan seolah menghampiri Elsa, karena kali ini Dewi
Fortuna berpihak padanya untuk menjadi juara satu. Rasa bahagia tak dapat lagi
dibendung. Jelas itu pengalaman pertama Elsa yang sanga tmenyenangkan dan
takkan terlupakan. Pemberian thropy disertai ucapan selamat yang terucap dari
berbagai pihak pembimbing lomba masing-masing perwakilan dan para juri.
Akhir
pekan yang membosankan dan terasa panjang menimbulkan inisiatif Elsa untuk
bermain dengan Intan. Ia pun memutuskan bermain ke rumah Intan dengan
bersepeda. Tiba-tiba Elsa terkejut setelah kedatangan anak laki-laki dari arah
belakangnya. “Itu kan yang kemarin mengikuti lomba” ucapnya dalam hati. “Selamat
ya atas kejuaraanmu Elsa, kamu keren” ucapnya dengan senyuman manisnya. “Iya
makasih, kok kamu bisa tahu?” jawab Elsa dengan heran. “Iya tahu dong, kemaren
aku memperhatikan” balasnya yang kemudian ia kayuhkan sepedanya dengan cepat
dan hilang dari pandangan Elsa. Elsa menjadi sangat terheran, mengapa anak
laki-laki itu mengetahui nama Elsa. Intan pun melihat perbincangan mereka dari
kejauhan. “Ciee Elsa” ejek candaan anak kecil yang terlontar begitu temannya
dianggapnya sudah punya pacar. “Ih Intan. Aku saja tidak tahu siapa anak itu”.
“Masa sih, itu saudara aku Sa. Namanya Alif, dia murid Ibu kamu loh” jawab Intan
dengan tegas.
Keesokan
harinya, Elsa pun bergegas berangkat sekolah. Sesampainya ia di kelas, lambaian
tangan dari kakak tingkat kelas 5 pun ditujukan untuk Elsa. “Ada apa kak
Puspa?” “Kamu dapat salam dari Alif temenku, cie cie cie Elsa” ucapnya dengan
candanya. Elsa pun terheran heran. Hari demi hari Alif terus menerus menitipkan
salam untuk Elsa, dan terkadang sesekali Elsa pun mendapat surat.
“Elsa
bermain terus tanpa memperhatikan kamarnya” tuturnya dengan merapikan kamar
Elsa. Ada selarik kertas yang tergeletak di dekat tas ransel yang mengundang
hasrat Ibu Katrine untuk membukanya. Tersenyum-senyum, tertawa kecil,
mengerutkan dahi, itulah ekspresi Ibu Katrine saat membaca selembar kertas itu.
“Ternyata putri kecilku intimite dini dengan muridku. Ini tidak boleh
berlanjut. Bagaimanapun aku harus melarang mereka untuk berpacaran dini. Anak
kecil jaman sekarang ada-ada saja”
Dilain
sisi, Elsa dan Intan bermain di halaman sekolah mereka. Kemudian Alif bersepeda
melewati sekolah tersebut. Terlihat Elisa yang sedang asyik bermain, Alif
membalikkan arah dan kembali ke arah sebelum ia beranjak. Tak lama kemudian
Puspa senior Elsa datang dengam membawa selembar kertas berisi pantun. “Ini
buat kamu Sa dari Alif, tadi Alif menyuruhku untuk menyampaikan ini”. Wajah
gadis kecil nan manis itu pun memerah. Seolah ia dipadang sabana yang luas,
seketika angin berhembus menyelimutinya. Ia pun langsung membaca isi surat itu.
Inti dari surat itu adalah Alif mengajak Elsa untuk menjadi pacarnya. Setelah
gadis kecil bak putri istana itu membaca, perasaannya berbunga-bunga. “Tetapi
kak, aku takut kalau aku dimarahin Ibu” ucapnya penuh kekhawatiran. “Begini
saja, kalau yang di sinetron-sinetron yang aku tonton menjawabnya
dipikir-dipikir dulu saja, baru besok kalau kamu sudah mantap baru besok
memutuskannya. Bagaimana?”. “Iya deh besok saja” jawab Elsa dengan mantap.
Seusai
Elsa mengerjakan pekerjaannya, Elsa pun merapikan kamarnya. Kemudian ibu nya
datang ingin menceritakan cerita pendek sebelum ia tidur. Ibu Katrine
menceritakan cerita yang berlatar istanasentris, namun sebenarnya adalah
menceritakan Elsa yang di dalam cerita tersebut diperankan sebagai puteri raja
yang masih kecil dan Alif sebagai putera Raja kerajaan lain yang juga masih
kecil. Yang mana inti dari cerita tersebut adalah kedua puteri dan pangeran
tersebut belum boleh memadu kasih layaknya orang dewasa. Elsa pun menjadi
teringat dengan kisahnya dengan Alif.
“Bu,
lalu memang kenapa kalau masih kecil berpacaran Bu?”
“Ya
tidak boleh dong, berpacaran itu untuk orang dewasa. Karena anak kecil apalagi
seusia Elsa masih labil alias belum tahu apa-apa tentang cinta kemudian kalau
seusia Elsa berpacaran terus dan masih belum sama-sama dewasa nanti yang ada
hanya nangis nangis. Kalau kata anak jaman sekarang itu masih cinta monyet,
nanti putus nanti nyambung lagi. Sekarang ibu ingin tanya. Menurut Elsa pacaran
itu apa sih? ”
“Kalo
menurut Elsa seperti ada yang di tv tv itu bu. Seperti Raya sama Mondy yang
sama-sama mencintai, lalu mereka bepergian bersama, naik motor berdua,
suap-suapan. Seperti itu bu.”
“Memang
kalau orang mencitai harus dengan orang seperti Mondy? Berarti ibu tidak boleh
mencintai Elsa dong anak kesayang Ibu.”
“Iya
boleh dong bu.”
“Naah.
Berarti mencintai itu bukan hanya seorang gadis kecil seperti kamu yang
mencintai lawan jenisnya. Tetapi mencintai itu kamu mencintai Ibu, mencintai
ayah, mencintai teman-teman kamu, mencintai guru-guru kamu, mencintai sekolah kamu,
mencintai nenek dan kakek, dan masih banyak lainnya. Dan untuk seusia kamu
diharapkan jangan dulu mencintai lawan jenismu nak.”
“Tapi
Bu kalau misal Alif....eh” ucap Elsa dengan tidak penuh sadar.
“Kok
Alif sayang? Kenapa dengan Alif? Kamu kenal dengan Alif? ”
“Duh
bu keceplosan. Jadi begini bu, Alif murid ibu yang waktu itu ikut lomba minta
Elsa untuk jadi pacarnya. Tapi Elsa belum mahu kok bu. Demi Alloh, Elsa tidak
bohong. Jangan marah ya bu dan Alif
jangan dimarahi ya bu, pliiiiis!!” dengan takutnya ia pinta kepada ibunya.
“Oooh
begitu. Ibu tidak marah kok sayang. Ibu malah ingin mengacungkan jempol ke kamu
karena sudah mau jujur sama ibu. Lalu kamu suka sama Alif?” meminta kepastian
yang tak ragu-ragu.
“Ya
bagaimana ya bu. Habisnya Alif tampan bu”
“Lalu
kenapa kalau Alif tampan?”
“Ya
kan mubadzir bu kalau ada yang suka Elsa ternyata yang suka setampan Alif”
“Hahaha
anak ibu sudah mulai tumbus dewasa rupanya. Boleh saja kamu menyukai lawan
jenismu nak, tetapi hanya sebatas berteman. Karena perkembangan usiamu harusnya
bermain dengan temanmu, bukan berpacaran”
“Tapi
kenapa bu?”
“Iya,
seusiamu memang harusnya belajar dan bermain. Nanti kalau kamu punya pacar,
waktu bermainmu jadi berkurang atau mungkin jadi tidak bermain dengan temanmu
karena sibuk dengan pacarmu, belajarmu jadi berkurang karena selalu keingat si
tampan Alif, nilai nya jadi menurun, jadi tidak fokus dengan sekolah. Karena
itu, kamu harus sekolah yang tinggi terlebih dahulu, sehingga kamu bisa sukses
dahulu baru kamu boleh mencari pacar yang setampan Alif atau bahkan lebih
tampan dari Alif”
“Memangnya
kenapa harus menunggu dewasa dan sukses dulu bu untuk berpacaran? Bukannya,
pacaran orag dewasa itu banyak berantem ya bu seperti yang di tv tv begitu bu.”
“Rupanya
anak ibu terkontaminasi dengan sinetron ya. Emmm begini sayang, kalau kamu
sudah belajar dengan rajin, sudah dewasa nanti kamu pasti akan dapat pacar yang
baik, yang tidak ingin nakal sama kamu karena kamu adalah wanita baik-baik.
Mereka orang dewasa yang berpacaran bertengkar, karena mereka belum rajin
sekolahnya, jadi mereka belum saling mengetahui perkembangan mereka
masing-masing.
“Ooh
begitu ya bu. Sekarang Elsa tahu harus bagaimana bu. Terimakasih ya bu sudah
tidak marah dengan Elsa. Elsa sayang Ibu ku yang cantik” ungkapan yang dalam
disertai kecupan kening. Lalu Elsa pun terlelap.
Berganti
hari, dan hari ini hari dimana Elsa harus membuat keputusan untuk Alif. Di
tempat yang sama dengan kemarin yakni halaman sekolah Elsa Elsa ditemani dengan
Intan dan Alif ditemani Puspa serta dua teman laki-lakinya. Dengan jarak 5
meter Alif menyampaikan “Elsa kamu mau tidak jadi pacar aku” sembari ia
menunjukkan bunga dan cincin yang
kemudian ia kasih ke Puspa untuk disampaikan ke Elsa. Bunga mawar berwarna
kuning yang terbuat dari plastik serta cincin dengan permata berwarna hijau pun
sudah ditangan Elsa. “Maaf ya, aku masih harus banyak belajar dulu. Aku belum
ingin pacaran” ungkap Elsa dengan tegas. Mendengar jawaban yang tak diharapkan
dengan pikiran Alif, Alif pun menangis dan memukul-mukuli pohon pisang di
dekatnya. “Ayolah Elsa, kamu tidak kasihan dengan Alif, hati Alif hancur
berkeping-keping” ucap salah satu temannya. Elsa menghampiri Alif dan
menenangkan Alif. “Kita kan masih kecil. Tapi kita boleh berteman kok Kak Alif.
Kita masih bisa bermain bersama. “Dengan senyum manisnya Elsa mengatakan hal
yang sangat terlihat seperti orang dewasa. Alif pun bungkam dan lebih lega Elsa
berbicara seperti itu.
Setelah
kejadian itu Elsa dan Alif menjadi jarang bertemu. Namun sesekali mereka
bertemu di jalan, mereka hanya tersenyum dan merasa malu. Tetapi, mereka
menjadi sahabat yang saling mensuport belajar hingga seterusnya walaupun
perasaan saling suka masih ada.
SELESAI

Komentar
Posting Komentar